Info Perkara

SIADPA WEB

 

tes

PORTAL INFORMASI PERKARA BADILAG

 

Follow Discussion

1 Response

  1. nofianto Says:

    Assalamualaikum wr.wb.
    Terima kasih sebelumnya untuk ustad/ustadzah yg bertugas sebagai tempat konsultasi urusan rumah tangga.

    Perkenalkan terlebih dahulu nama saya M.Nofianto.w dan istri saya Sepwinda E.P
    Saya dan istri saya adalah pasangan suami istri yang baru menikah tanggal 15 desember 2014. Saya menikah atas kemauan kami sendiri di luar nikah.
    Saya menikahi istri saya ketika hamil 3bln.
    Kami menikah dan tinggal di tempat kakak saya karena rumah tidak di tempati/kosong. Saya sekarang seorang tenaga honorer guru di SDN Mandaran Rejo II dan insyaAllah di terima sebagai admin di JNE pasuruan.
    Dulu setelah menikah posisi saya belum bekerja karena keluar dari honor di sebuah madrasah di sidogiri, saya ingin mencari pekerjaan lain karena sudah berkeluarga. Tapi saya punya uang tabungan untuk menafkahi istri dan calon bayi kami, untuk biaya persalinan istri saya pun sudah saya persiapkan.
    Yang ingin saya tanyakan ustad/ustadzah, kurang lebih 1bln kami tinggal bersama berdua dgn calon bayi kami, istri saya ingin membantu pakdhe/om nya di acara pernikahannya. Saya melarang istri saya pergi karena dengan alasan istri sudah membantu 2x dan juga sedang hamil 27minggu. Kejadian itu terjadi setelah shubuh hari minggu tanggal 15 februari 2015 istri saya meminta izin pada saya tapi saya melarangnya demi kesehatan istri dan calon anak kami, di rumah saja pekerjaan sudah saya yang kerjakan termasuk cuci piring, cuci baju istri saya, nyapu, kecuali cuci pakaian dalam istri saya, kok istri malah pergi? Saya sakit hati karena saya tidak memberi izin dan tidak menjemput istri saya ke rumah mertua setelah slese membantu acara omnya.
    Selama itu saya menunggu istri saya kembali meskipun istri menyuruh saya menjemputnya dengan alasan saya ingin mendidik istri saya supaya tidak nusyus. Pada tanggal 27 April 2015 istri saya melahirkan sesar di RSUD Soedarsono (purut) dan saya tidak memdapat kabar. Ketika saya mendengar dari orang/tetangga istri saya, saya ke rumah mertua saya pada tanggal 13 mei 2015 dan tidak di bukakan pintu. Keesokan harinya saya kesana lagi dengan hasrat ingin bertemu anak kami tapi bukan anak yang saya temukan melainkan cacian, hujatan, ancaman dari mertua perempuan dan adik istri saya.
    Tolong pencerahan dan solusi karena rumah tangga saya di ambang perceraian?
    Assalamualikum ustad/ustadzah.

Leave a Reply

  • LINK KAMI













    Pembaruan MA